Biografi
Yap Thiam Hien, yang biasa dipanggil "John" oleh teman-teman akrabnya, adalah anak sulung dari tiga bersaudara dari Yap Sin Eng dan Hwan Tjing Nio. Kakek buyutnya adalah seorang
Luitenant yang bermigrasi dari provinsi
Guangdong di
Tiongkok ke
Bangka, namun kemudian pindah ke Aceh. Ketika monopoli
opium di
Hindia Belanda dihapuskan, kehidupan keluarga Yap dan banyak tokoh masyarakat Tionghoa saat itu merosot. Ditambah lagi oleh kekeliruan investasi di Aceh berupa kebun kelapa yang ternyata tidak memberikan hasil yang menguntungkan. Pada tahun 1920 kedudukan keluarga Yap digantikan oleh keluarga Han, yang datang dari
Jawa Timur.
Thiam Hien dibesarkan dalam lingkungan perkebunan yang sangat
feodalistik. Kondisi lingkungan feodalistik ini telah menempa pribadi cucu Kapitan Yap Hun Han ini sejak kecil bersifat memberontak dan membenci segala bentuk penindasan dan kesewenang-wenangan.
Pada usia 9 tahun, ibu Thiam Hien meninggal dunia. Ia dan kedua orang adiknya kemudian dibesarkan oleh Sato Nakashima, seorang perempuan
Jepang yang merupakan
gundik kakeknya. Sato ternyata memainkan peranan besar dalam kehidupan Thiam Hien, memberikan kemesraan keluarga yang biasanya tidak ditemukan dalam keluarga Tionghoa serta rasa etis yang kuat yang kelak menjiwai kehidupan Thiam Hien di masa dewasa.
Yap Sin Eng, ayah Thiam Hien, ternyata adalah figur yang lemah. Namun Sin Eng ikut membentuk kehidupan anak-anaknya, karena ia memutuskan untuk memohon status hukum disamakan(gelijkstelling) dengan bangsa Eropa. Hal ini memungkinkan anak-anaknya memperoleh pendidikan Eropa, meskipun mereka telah kehilangan status sebagai tokoh masyarakat.
Pindah ke Jawa
Thiam Hien belajar di
Europesche Lagere School, Banda Aceh. Kemudian melanjut ke
MULO di Banda Aceh. Pada tahun 1920-an, Yap Sin Eng membawa Thiam Hien dan adiknya Thiam Bong pindah ke Batavia. Thiam Hien pun pindah sekolah ke MULO di Batavia, lalu meneruskan ke
AMS A-II dengan program bahasa-bahasa Barat di
Bandung dan
Yogyakarta dan lulus pada
1933. Ia sangat tertarik akan sejarah dan fasih dalam bahasa-bahasa Barat, yaitu
bahasa Belanda,
bahasa Jerman,
bahasa Inggris,
bahasa Prancis, dan
bahasa Latin.
Paa
1938, Yap memeluk agama
Kristen, setelah selama beberapa tahun mempelajarinya dan berkenalan lewat sebuah keluarga
Indo, tempat ia kos di
Yogyakarta.
Menjadi guru
Selesai dari
AMS, dunia pada saat itu dilanda depresi ekonomi, dan Yap tidak dapat memperoleh pekerjaan. Karena itu ia pindah ke
Batavia, dan masuk ke
Hollands-Chineesche Kweekschool (HCK), di
Meester Cornelis. HCK adalah sekolah pendidikan guru yang berlangsung satu tahun, yang memberikan kesempatan kepada para pemuda
peranakan yang ingin menempuh pendidikan profesional, namun tidak mempunyai biaya untuk masuk ke universitas. Setamat dari HCK, Yap menjadi guru selama empat tahun di
wilde scholen (sekolah-sekolah yang tidak diakui pemerintah Belanda)
Chinese Zendingschool,
Cirebon. Berikutnya menjadi guru di
Tionghwa Hwee Kwan Holl,
China School di
Rembang dan
Christelijke School di Batavia. Lalu, sejak
1938, Yap yang pernah menjadi pencari langganan telepon, bekerja di kantor asuransi Jakarta dan di Balai Harta Peninggalan
Departemen Kehakiman pada
1943 serta mendaftar di
Rechsthogeschool (Sekolah Tinggi Hukum).
Berangkat ke Belanda
Pada awal
1946, Yap mendapatkan kesempatan untuk bekerja pada sebuah kapal pemulangan orang-orang Belanda yang mengantarkannya ke Belanda untuk menyelesaikan studi hukumnya di
Universitas Leiden. Dari sana ia meraih gelar
Meester in de Rechten. Sementara belajar di Leiden, Yap tinggal di
Zendingshuis, pusat
Gereja Reformasi Belanda di
Oegsgeest. Selama tinggal di Zendingshuis, Yap banyak membaca buku-buku teologi Protestan dan berdiskusi dengan para mahasiswa Belanda yang mempersiapkan diri untuk menjadi misionaris. Yap semakin tertarik akan pelayanan gereja, dan Gereja Reformasi Belanda kemudian menawarkan kesempatan kepada Yap untuk belajar di
Selly Oak College di
Inggris, dengan syarat ia kelak mengabdikan hidupnya bagi pelayanan gereja di Indonesia. Yap setuju dan sekembalinya dari Eropa ia menjadi pemimpin organisasi pemuda Kristen
Tjeng Lian Hwee di Jakarta pada akhir
1940-an. Selama di Belanda, Yap berkembang menjadi seorang sosialis demokrat melalui pergaulannya dengan banyak mahasiswa Indonesia lainnya yang terkait dengan Partij van de Arbeid (Partai Buruh) di Belanda.
Menjadi pengacara
Sekembalinya ke tanah air pada
1948, Yap menikah. Ayahnya, Yap Sin Eng dan Sato Nakashima meninggal pada
1949. Yap mulai bekerja di gereja. Ia pun kemudian mulai berkiprah sebagai seorang pengacara warga untuk warga keturunan
Tionghoa di Jakarta. Belakangan ia bergabung dengan sebuah biro hukum kecil namun cukup terkemuka dengan rekan-rekannya yang semuanya terlibat dalam masalah yang jauh lebih luas daripada sekadar masalah
Tionghoa. Rekan seniornya pada waktu itu antara lain adalah
Lie Hwee Yoe, pendiri biro hukum itu pada tahun 1930-an,
Tan Po Goan, seorang pendukung aktif revolusi dan kemudian menjadi anggota
Partai Sosialis Indonesia, dan
Oei Tjoe Tat yang jauh lebih muda, seorang aktivis
Sin Ming Hui dan belakangan aktif di
Baperki dan
Partindo.
Setelah lebih berpengalaman, Yap bersama John Karwin,
Mochtar Kusumaatmadja dan Komar membuka kantor pengacara pada
1950. Sampai kemudian, Yap membuka kantor pengacara sendiri sejak tahun
1970 dan kemudian memelopori berdirinya Peradin (Persatuan Advokat Indonesia) dan kemudian menjadi pimpinan asosiasi advokat itu.
Dalam rangka memperkuat perlawanannya terhadap penindasan dan tindakan diskriminatif yang dialami keturunan
Tionghoa, Yap ikut mendirikan
Baperki, suatu organisasi massa yang mulanya didirikan untuk memperjuangkan kepentingan politik orang-orang Tionghoa. Lalu, pada
Pemilihan Umum 1955, ia menjadi anggota
Konstituante. Namun Yap berbeda paham politik dengan
Siauw Giok Tjhan, salah satu tokoh
Baperki saat itu. Ia menentang politik Siauw yang cenderung
kekiri-kirian. Karena itu Yap kemudian keluar dari organisasi itu.
Nama Yap muncul ke permukaan setelah ia terlibat dalam perdebatan di Konstituante pada 1959. Ketika itu, sebagai seorang anggota DPR dan Konstituante keturunan Tionghoa, ia menolak kebijakan fraksinya yang mendapat tekanan dari pemerintah. Ia satu-satunya anggota Konstituante yang menentang
UUD 1945 karena keberadaan Pasal 6 yang diskriminatif dan konsep kepresidenan yang terlalu kuat.
Perjalanan karier dan perjuangannya juga ditopang dengan kuat oleh istrinya, Tan Gien Khing Nio, yang berprofesi guru. Mereka dikaruniai dua anak, Yap Hong Gie dan Yap Hong Ai, serta empat cucu. Yap, yang diberi penghargaan gelar
doctor honoris causa dikenal sebagai pengabdi hukum sejati.
Dalam perjalanan tugas menghadiri konferensi internasional Lembaga Donor untuk Indonesia di
Brussel,
Belgia, Yap menderita pendarahan usus. Setelah dua hari dirawat di Rumah Sakit Santo Agustinus, Brussel, Yap menghembuskan napas yang terakhir pada
25 April 1989. Jenazahnya diterbangkan ke Jakarta. Lima hari kemudian, diiringi ribuan pelayat, jenazahnya dikebumikan di Taman Pemakaman Umum
Tanah Kusir Jakarta.
Kegiatan
Begitu pula ketika terjadinya
Peristiwa G30S, Yap, yang dikenal sebagai pribadi yang antikomunis, juga berani membela para tersangka G30S seperti
Abdul Latief,
Asep Suryawan, dan
Oei Tjoe Tat. Yap bersama
H.J.C Princen,
Aisyah Aminy, Dr Halim,
Wiratmo Sukito, dan Dr Tambunan yang tergabung dalam
Lembaga Pembela Hak-hak Asasi Manusia (LPHAM) yang mereka dirikan 29 April 1966 dan sekaligus mewakili
Amnesty International di Indonesia, meminta supaya para
tapol PKI dibebaskan.
Ia juga membuktikan nasionalisme tidak dapat dikaitkan dengan nama yang disandang seseorang. Ini dibuktikannya dengan tidak mengganti
nama Tionghoa yang ia sandang sampai akhir hayatnya walaupun ada himbauan dari pemerintah Orde Baru kepada orang Tionghoa di Indonesia untuk mengganti nama Tionghoa mereka.
Ia juga membela
Soebandrio, bekas perdana menteri, yang menjadi sasaran cacian massa pada awal Orde Baru itu. Pembelaan Yap yang serius dan teliti kepada Soebandrio itu sempat membuat hakim-hakim militer di Mahmilub (
Mahkamah Militer Luar Biasa) bingung dan kesal.
Yap juga seorang tokoh yang antikorupsi. Ia bahkan sempat ditahan selama seminggu pada tahun
1968 sebagai akibat kegigihannya menentang korupsi di lembaga pemerintah.
Pada Peristiwa
Malari (Malapetaka Lima Belas Januari)
1974, Yap juga tampil teguh memosisikan diri membela para
aktivis mahasiswa. Ia pun ditahan tanpa proses peradilan. Ia dianggap menghasut mahasiswa melakukan demonstrasi besar-besaran. Begitu pula ketika terjadi
Peristiwa Tanjung Priok pada
1984, Yap maju ke depan membela para tersangka.